Saya Benar Karena Saya Diam

Haha.. setelah disindir oleh beberapa teman, akhirnya gw berniat mem-post sesuatu lagi sekarang… selama ini banyak banget yang pengen gw post, tapi idea itu datengnya sungguh di saat yang tidak tepat… pas sampe depan layar, mood menulis sudah hilang.

Tapi tenang, smua poppin idea sudah gw catet. Akan dikeluarkan satu persatu disini… he… :D

Harusnya kalo melihat judul diatas, gw gak perlu menulis apa-apa karena kalo ngikutin judul tersebut, untuk tetap benar, gw harusnya diam saja… Tapi judul di atas itu adalah judul yang tidak lengkap. Judul lengkapnya adalah Saya (Merasa) Benar Karena Saya Diam.

Kemana arah tulisan ini?

Kemari… pernahkah lo mempunyai pemikiran terhadap sesuatu yang hanya lo simpan di dalam otak (dan atau) hati sendiri, tanpa pernah membaginya dengan orang lain. Untuk beberapa hal tertentu, kita kadang merasa tidak perlu membaginya (bertanya, bercerita atau apapun) dengan orang lain karena kita udah yakin betul apa yang kita pikirkan dan lakukan itu sudah benar. Saking yakinnya kita bahkan gak merasa perlu mencari referensi.

Seorang teman pernah bercerita, dia bilang “Gw tuh udh melakukan hal yang bener, selama ini gw yakin apa yang gw lakukan udh benar kok!!!”

Pertanyaan yang muncul “Sez who?”

Teman “Ya… karena… gw dari dulu udh yakin dalam hati dan pikiran gw, itu benar, itu udah gw pikirin!!!”

NAH… ternyata disitu letak miss kita… “itu udah gw pikirin…”

Pertanyaan selanjutnya “Udah pernah dikonfirmasi ke orang yang kredibel, pemikirannya itu?”

Teman “Hmm… perlu ya?”

Lalu gw berkhayal sejenak… dan menjawab “Perlu… perlu sekali…”

Inilah khayalan gw:

Misalnya gw sejak kecil selalu berpikir… bahwa 5+3=13. Dan gw percaya dan yakin bahwa itu benar, karena sudah gw pikirkan sejak dulu dan gw yakin thd kebenarannya berdasarkan keyakinan gw tadi.

Diri gw akan selalu merasa 5+3=13 adalah hal yang benar. Dan karena gak ada kepentingan untuk mengeluarkan pemikiran tersebut, ya gw diam saja… 5+3=13 pun tetap tertanam di otak gw.

Gw tidak pernah merasa ada yang salah. Karena gw tidak bilang pada siapapun.

Sampai suatu saat ada keadaan yang membuat gw harus mengeluarkan pemikiran tersebut… bahwa 5+3=13. Dan ternyata gw salah… harusnya 5+3=8!!! Gw sangat kaget dan gak terima ketika semua orang menyalahkan apa yang selama ini sudah gw pikirkan dan gw yakini itu benar.

Kesalahan fatal-nya sebenernya bukan lahir dari ‘perhitungan’ yang salah atau gw yang salah hitung… tapi harusnya gw caritau, harusnya gw tanya sama orang yang kredibel, harusnya gw cari jawaban ke tempat yang tepat.

Karena ternyata, benar atau salah, hanya akan terungkap ketika pemikiran yang ada di otak, kita lontarkan keluar. Ketika kita berani membawa pemikiran itu ke kenyataan.

Pertanyaannya sekarang… mau dan beranikah kita melontarkan apa yang kita pikirkan? Resikonya udah pasti… di-judge sama orang dan mungkin akan dinyatakan salah (kalo ternyata emang salah). Maukah kita menerima penilaian tsb? Kalau mau tetap aman sih, ya… diam saja. Emang sih…

Silence is gold… Diam itu emas…

Tapi emas kalo didiemin doang, ya cuma jadi emas mentah aja.

Sedangkan emas yang diproses lebih lanjut, bisa jadi banyak hal… dan yang pasti bisa jadi sesuatu yang lebih bernilai.

Tags: , ,

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

3 Responses to “Saya Benar Karena Saya Diam”

  1. LiSaLaYSa says:

    silence is golden, but then again,,why settle with gold?

    -from Jakarta Post’s ad on a tear of a magz-

  2. bayu says:

    Hal yang paling sering gue lakukan. Tapi emang bener sih, karena gue merasa nyaman, maka gue tetap lebih suka diam. Dan gue juga suka gold, cocok kan.. ^_^

Leave a Reply