Forward / Backward

Minggu lalu adalah minggu yang tidak begitu enak buat kesehatan gw. Flu batuk pilek gw gak sembuh-sembuh. DOGH! Padahal sini kan jualan suara. Tapi entah kenapa keinginan untuk istirahat total di rumah cuma bisa gw sanggupi satu hari aja. Bukannya apa-apa, lagi banyak keriaan di long weekend kemaren, dan gw gak mau lewatin itu. Ha ha.

.

Long weekend gw dimulai lebih cepat, dari hari Kamis dua sahabat gw udah gak ngantor, gw-yang emang jadwal kerjanya santai dan gak seperti office hour normal ya pastinya senang sekali melihat mereka bolos. Salah satu dari dua sahabat gw ini lagi dilemma ceritanya… biasalah, masalah percintaan, dihadapkan pada dua pilihan yang sama berat. Kebayanglah ya kira-kira yang model kayak gitu problemnya :p

.

Hari Sabtu seharian gw bersama mereka lagi, sampe tengah malem. Yang paling banyak dibahas masih sama, masalah percintaan si temen gw itu lagi. Setelah dia makin banyak cerita dan bicara, ternyata mulai berasa the real problem of her lovelife issue itu terletak pada kekhawatiran dia memilih salah satu dari dua pilihan yang dia punya itu.

.

Temen gw ini terlalu mengkhawatirkan masa depan dari hubungan yang akan dipilih, penerimaan keluarga, kehidupan setelah menikah, dan banyak banget hal yang mengantri di belakang future-sight itu.

.

Yang bikin jadi pusing adalah, kalo menurut gw, dia ‘memandang’ masa depan dan step-step berikutnya dan berikutnya lagi terlalu dini. Padahal step 1 aja belum diambil. Inilah yang bikin dia jadi ragu-ragu, dan takut untuk mengambil bahkan sebuah langkah kecil aja.

.

Plan memang sangat penting. Punya bayangan akan masa depan itu harus. Tapi kalo bayangannya malah bikin kita takut di masa sekarang, repot juga ya ternyata.

.

Cerita dari temen gw ini membuat otak gw menulis sebuah ‘kalimat’ baru. Tapi saat itu kalimatnya belum selesai, gw cuma meng-save as draft kalimat tersebut, kali-kali aja besok-besok ketemu kesimpulannya. ;)

.

Sampe akhirnya hari Minggu malem, karena nyokap gw baca twit orang-orang di timeline dia yang bilang film Avatar itu bagus banget, penasaranlah doi dan ngomporin gw, bokap, kakak, dan kakak ipar gw untuk capcusss berangkat nonton. Liat jadwal nonton jam 21.15 sedangkan baru sampe bioskop jam 20.45, tau dong apa yang terjadi… Masih ada sih tiketnya tapi di row kedua dari depan aja… DANG! Tapi daripada berangkat sia-sia, akhirnya kita tetep nonton.

.

Dengan enggan gw duduk di unlucky seat itu. Serba salah. Rasanya gak nyaman bangeeet, nonton film yang orang-orang bilang keren tapi dari jarak terlalu deket. It’s 3D for God sake! Everything looks closer. Well 3D is no longer cool when the effect slam right on your nose ’til you find it difficult to see and feel the coolness of the technology.

.

Akhirnya konsentrasi nonton gw terpecah, karena pegel leher dan pegel mata, sesekali gw lepas kacamata 3D-nya dan celingak celinguk menghindari pandangan dari layar. Sedikit kesel karena kalo aja dateng lebih awal dan dapet seat yang lebih enak gw mungkin bisa menikmati film tentang mimpi paling ciamik tahun ini dan ikutan mimpi indah ke dalam ceritanya.

.

Ternyata ketidaknyamanan menikmati mimpi ini yang malah bikin gw bisa menyelesaikan kalimat yang gw ceritain sebelumnya tadi. I’ve learned something and finally knew what that sentence is all about…

.

Dream is beautiful when you see it with a right distance. Not too far, not too close. So do your past, present, future, and whatever you wanna see in life.

.

So when you feel there’s something wrong with your sight, all you need is to adjust your position. Take a small step, either forward or backward.

.

Enjoy your movement!

.

Tags: , , , , , , ,

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Leave a Reply