Obrolan Social Media
Hey y’all… malu deh baru posting lagi sekarang… Sekali lagi gw menjadi kontributor di Market+ magazine. Sebenernya artikel ini udah ada di Market+ bulan Desember 2010, dan sekarang sudah Februari 2011. Tapi gw rasa informasinya masih sangat layak untuk dibaca sekarang kok :p
.
Versi print bisa dibaca di Market+ bercover ini:
.
Sedangkan versi web bisa dibaca di http://www.marketplus.co.id/2010/12/22/pakar-mengungkap-fenomena-social-media/
.
Seperti biasa, supaya lebih mudah membacanya… ini dia versi aslinya:
.
“Pakar Mengungkap Fenomena Social Media”
.
Optimisme @KemalGani.
Ketika ditanya soal perkembangan social media di Indonesia, Kemal Gani merasa kita harus fokus pada pemanfaatan social media yang sudah berkembang pesat. Karena jika tidak dimanfaatkan, bisa jadi segala perkembangan tersebut sia-sia. Walaupun perkembangan pesat social media belum bisa dibilang skala nasional dan masih fokus di kota besar, Kemal optimis social media akan berkembang pesat di rural area mengingat harga handset smartphone dan koneksi internet semakin terjangkau.
.
Bagi Kemal, eksis di dunia digital hanyalah langkah awal, yang harus diperhatikan berikutnya adalah apakah brand tersebut di dunia digital dibicarakan dengan positif atau negatif. Sedangkan untuk personality, sama halnya dengan brand, banyaknya jumlah follower tidak menjamin personality benar-benar menjadi influencer yang ‘didengar’ oleh followersnya.
.
Melihat kebelakang, sebelum dunia digital marak, perbedaan yang bisa dirasakan oleh para pebisnis sekarang adalah; brand bisa lebih banyak berhubungan dengan pelanggan. Perkembangan luar biasa pada contact antara produsen dengan pelanggan menurut Kemal adalah sebuah efek yang baik untuk sebuah brand.
.
Kemal menambahkan, sebuah bisnis utk bertahan, bukan saja harus berbeda, tapi harus punya nilai tambah untuk target marketnya, yang harus diingat adalah bagaimana bisnis tersebut bisa konsisten bertahan menjalankan plan yang sudah dibuat
..
@andysjarif dan @ReneCC bersenjatakan SITTI
Siapa yang menyangka jika teknologi SITTI sudah dirumuskan oleh Andy Sjarif sejak 11 tahun yang lalu dimana pada saat itu kesiapan fasilitas untuk menjalankannya belum bisa mendukung mimpi Andy tersebut. Beruntungnya ternyata “there’s no population going faster than digital population” bermodalkan optimisme dan ‘nekat’ akhirnya Andy kini bisa mulai memperkenalkan SITTI kepada masyarakat digital Indonesia.
.
Kini SITTI sudah memetakan dan membaca 600 juta halaman website dalam bahasa Indonesia sehingga memungkinkan perusahaan dapat beriklan dengan kontekstual. Mesin ini di-set up untuk melihat wacana apa yang terjadi di dunia digital sehingga perusahaan dapat memantau seperti apa produknya dibicarakan di masyarakat digital.
.
SITTI adalah sebuah cara untuk membuat baik perusahaan besar maupun UKM menyadari pentingnya memiliki pemahaman soal keuntungan beriklan di dunia digital. Karena Andy memandang “internet is about small people making a difference for themselves”
.
Dengan ‘pickup line’ yang tepat yaitu memaparkan kapabilitas mesin SITTI, Andy kemudian berhasil mengajak Rene Suhardono untuk bermitra dengan SITTI. Rene tertarik dengan bagaimana SITTI memberi kesempatan UKM dapat beriklan sejajar dengan sebuah perusahaan besar.
.
Rene sendiri merasa sekarang ini masih banyak perusahaan yang belum paham betul tentang keuntungan beriklan di dunia digital. Untuk itu SITTI terus berusaha mengedukasi perusahaan-perusahaan tersebut. Untuk UKM, SITTI melakukan pendekatan yang berbeda, lebih detail dan sudah mulai dilakukan berkala. Sedangkan untuk personality yang dianalisa dengan mesin SITTI, Rene percaya efeknya akan berbeda-beda pada tiap individu, tergantung bagaimana personality tersebut menyikapi hasil data yang keluar.
.
.Oh My Goodness, @yoris !
OMG adalah kata yang bisa menggambarkan respon Yoris Sebastian ketika mengetahui apa yang bisa dilakukan mesin bernama SITTI atas kemampuannya menjangkau seluruh aspek digital dalam riset dan bukan sekedar membaca sampling. SITTI bisa dibahasakan sebagai alat ‘sensus’. Ketika bicara social media, Yoris percaya yang dibicarakan bukan hanya bisnis bernilai jutaan tapi juga bisa mencapai angka milyaran. Contoh paling terlihat adalah kesuksesan Holycow Steak dan Onrop musikal. Mereka besar lewat social media.
.
Bagi Yoris, “social media is the media”. Jika masih ada perusahaan yang menunda eksistensinya di dunia digital, sangatlah disayangkan. Social media adalah media dua arah dan sebenarnya menguntungkan untuk perusahaan. Kuncinya sekarang adalah bagaimana sebuah perusahaan bisa kreatif dalam menemukan angle yang tepat untuk bermain di area social media, sesuai dengan brand atau personality image yang ingin dibentuk. Ini adalah hal yang harus diasah, sejalan pernyataannya dalam buku “Creative Junkies”, Yoris mengibaratkan kreativitas itu berawal dari sebuah titik yang ketika diasah, akan menjadi semakin besar dan kuat.
.
Awalnya Yoris sempat berpikir “word of mouth” hanya penting dilakukan oleh industri kuliner. Namun ketika semakin banyak orang yang “berbicara” di social media, dan sebaliknya, ketika masyarakat sudah mencari informasi dari social media, mau tidak mau semua brand harus menerapkan gerilya “word of mouth” lewat social media.
.
Social media as a new media sayang sekali jika diperlakukan sama seperti media tradisional. Misalnya ketika sebuah brand hanya memasang iklan di Facebook, akhirnya hanya akan menjadi ”new media dengan old approach” bukan menjadi “new media dengan new approach”. Ini adl sesuatu yang hrs dipelajari.
.
Semua hal yang sekarang dilakukan Swa, SITTI dan OMG Consulting bukanlah penyingkiran media tradisional karena Yoris percaya, di masa depan, social media dan media tradisional akan jalan beriringan dan saling bersinergi.
.







